BREAKING

Puluhan Siswa MTsN 1 Pariaman Keracunan Usai Makan MBG, Ayam Saus Lada Hitam Diduga Jadi Pemicu

Pelajar MTsN 1 Kota Pariaman yang diduga keracunan setelah menyantap MBG

Lantera, Pariaman — Kepanikan melanda lingkungan MTsN 1 Kota Pariaman pada Senin (14/9/2026). Puluhan siswa tiba-tiba jatuh sakit serentak tak lama setelah menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi kasus pertama keracunan terkait program tersebut di kota ini. Gejala mual, muntah, pusing, hingga nyeri perut hebat dialami para siswa, memaksa pihak sekolah dan keluarga bergegas membawa mereka ke rumah sakit.

 

 

 

86 Siswa Jatuh Sakit, 56 Dirawat di RS Muhammad Yamin

 

Peristiwa bermula saat para siswa menerima dan menyantap hidangan MBG pada jam istirahat sekolah, sekitar pukul 10.00 WIB. Kurang lebih satu jam kemudian, saat kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung, siswa satu per satu mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka. Awalnya dibawa ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS), namun karena jumlah yang sakit terus bertambah dan kondisi beberapa anak memburuk, pihak sekolah segera merujuk mereka ke Rumah Sakit Muhammad Yamin dan RS Ali Sadikin.

 

Wali Kota Pariaman, Yota Balad, memberikan keterangan terkait pendataan korban hingga Senin sore. Dari total 86 siswa yang terdampak, sebanyak 56 siswa sempat dirawat di RS Muhammad Yamin dan 30 siswa lainnya di RS Ali Sadikin. Sebanyak 50 siswa sudah diperbolehkan pulang, sementara puluhan lainnya masih menjalani perawatan inap. Mayoritas kondisi korban dilaporkan mulai membaik secara bertahap.

 

 

 

Menu Ayam Goreng Saus Lada Hitam Diduga Jadi Sumber Masalah

 

Menu yang dikonsumsi siswa pada pagi itu terdiri dari nasi putih, ayam fillet goreng tepung saus lada hitam, tahu goreng, tumis kacang panjang campur jagung, serta semangka kuning. Kepala MTsN 1 Kota Pariaman, Tarmizi, menyebut pihak sekolah sebelumnya telah mendapati keluhan terkait kondisi ayam yang terlihat berbau tidak wajar sebelum disajikan.

 

"Ayamnya yang berbau, kata gurunya tadi itu cuman memang agak bau," ungkap Tarmizi. Dugaan ini menjadi titik awal penyelidikan, mengingat gejala yang muncul sangat khas untuk keracunan makanan.

 

 

 

Dinas Kesehatan Ambil Sampel untuk Pemeriksaan Laboratorium

 

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Rudy Renaldi, menyatakan pihaknya telah segera mengambil sampel sisa makanan dari dua lokasi — langsung dari wadah makanan siswa (ompreng) dan dari dapur penyedia program MBG. Semua komponen makanan dalam satu porsi diambil untuk dipastikan bahan mana yang mengandung zat berbahaya.

 

"Dari Dinas Kesehatan ada ke dapur MBG juga sudah datang mengambil sampelnya. Sampelnya semua yang ada di makanan anak-anak dalam satu ompreng MBG itu sedang kita bawakan ke labor untuk diperiksa," jelas Rudy. Hasil laboratorium diharapkan dapat mengonfirmasi penyebab pasti keracunan, apakah berasal dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, atau pengantaran makanan ke sekolah.

 

 

 

Dapur Penyedia dan Mekanisme Pengawasan Dipertanyakan

 

Makanan yang disajikan di MTsN 1 Kota Pariaman berasal dari dapur SPPG milik Yayasan Duta Cahaya Bangsa, yang telah menyuplai program MBG ke sekolah tersebut selama sekitar enam bulan. Sebelum peristiwa ini, belum pernah tercatat insiden serupa. Namun kejadian ini memunculkan pertanyaan mendasar terkait pengawasan kualitas makanan sebelum diserahkan ke pihak sekolah.

 

Pihak sekolah telah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan dan instansi terkait. Para orang tua berharap penyelidikan berjalan transparan dan pihak yang bertanggung jawab segera ditindaklanjuti. Program MBG sesungguhnya sangat dibutuhkan masyarakat, namun pelaksanaannya harus dijaga ketat agar tidak justru membahayakan anak-anak yang seharusnya dibantu.

 

"Semoga penyebabnya segera ditemukan, ditindaklanjuti dengan tegas, dan perbaikan dilakukan agar tidak ada anak lain yang menjadi korban," ujar salah satu orang tua yang menunggu di rumah sakit.


 

#Keracunan_MBG #MTsN_1_Pariaman #Makan_Bergizi_Gratis #Kota_Pariaman 

Posting Komentar