BREAKING

Ketika Orang Alim Terjerat Parafilia: Tinjauan Agama dan Realitas Sosial


Photo : Ilustrasi

Oleh: Dr. H. Firdaus, M.H.I.

(Dosen Hukum Keluarga Islam Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat)


TERJADI PADA ORANG ALIM SETINGKAT MAHA GURU JADI PRAKTISI PARAFILIA

 

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya kerap mendengar orang dewasa bercerita tentang seseorang yang disebut “anak jawi” bagi laki-laki lain. Istilah itu dimaksudkan untuk menggambarkan laki-laki yang dijadikan kesayangan untuk berkasih sayang layaknya pasangan kekasih, padahal orang tersebut telah beristri dan memiliki keturunan.

 

Belakangan, ada seorang yang menceritakan keluh kesahnya kepada saya: suaminya yang sangat dihormati pemerintah daerah dan masyarakat luas karena menjadi qari, pandai mengaji serta mengajarkan agama, ternyata menjadikan murid-murid laki-lakinya sebagai pelampiasan hasrat s*ksualnya.

 

Ada satu hal lagi yang jauh lebih mengejutkan: seorang maha guru atau guru besar yang memegang gelar akademik tertinggi, yang keahliannya menelaah kandungan Al-Qur’an tak perlu diragukan lagi—karena bahasa Al-Qur’an memang bidang keahliannya—ternyata juga tersangkut dalam praktik parafilia. Mendengar keluhan korbannya sungguh terasa sangat sulit untuk dipercaya. Saya yakin banyak pembaca yang juga memiliki cerita serupa terkait persoalan ini.

 

Melalui tulisan ini, saya ingin menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan penyebab munculnya parafilia dalam penyaluran nafsu s*ksual, dengan uraian singkat sebagai berikut:

 

Nafsu s*ksual sejatinya adalah fitrah yang Allah anugerahkan kepada setiap manusia. Dalam ajaran Islam, penyaluran naluri tersebut diarahkan secara khusus melalui ikatan pernikahan yang sah antara laki-laki dan perempuan. Namun dalam kenyataannya, sebagian orang mengalami ketertarikan yang tidak sesuai dengan norma tersebut, atau masuk ke dalam ranah parafilia. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, tak terkecuali mereka yang mendalami ilmu agama, bahkan kalangan akademisi hingga guru besar sekalipun.

 

Perlu dipahami dengan baik bahwa belum ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan mengapa seseorang mengalami kondisi demikian. Berbagai kajian menunjukkan bahwa faktor biologis, psikologis, pola asuh sejak kecil, pengaruh lingkungan, serta pengalaman hidup dapat saling berkaitan dan membentuk kondisi tersebut. Hingga saat ini, para ahli pun belum mencapai kesepakatan bahwa hanya ada satu alasan pasti yang berlaku bagi semua orang.

 

Dalam pandangan Islam, para ulama umumnya membedakan antara adanya dorongan yang muncul dalam diri dengan perbuatan yang kemudian dilakukan. Seseorang tidak dinilai berdosa hanya karena munculnya dorongan yang bukan atas kemauannya sendiri, namun ia tetap bertanggung jawab atas keputusan dan perbuatan yang dilakukannya. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa menjaga diri, memperkokoh keimanan, dan menyalurkan naluri s*ksual sepenuhnya sesuai tuntunan syariat.

 

Fakta bahwa seseorang sudah menikah, memiliki anak kandung—bahkan anaknya sangat mirip dengannya—tidak bisa dijadikan bukti mutlak bahwa ia tidak mungkin mengalami kecenderungan menuju parafilia. Kemampuan menjalankan rumah tangga dan memiliki keturunan adalah hal yang terpisah dari arah ketertarikan s*ksual seseorang. Keduanya adalah aspek yang berbeda dan tidak bisa disamakan.

 

Sikap yang paling bijaksana adalah tidak terburu-buru menghakimi hanya berdasarkan kabar atau dugaan semata. Islam mengajarkan kita untuk menjaga kehormatan sesama, menjauhi prasangka yang tidak berdasar, dan memberikan nasihat dengan cara yang penuh hikmah jika memang diperlukan. Di sisi lain, mereka yang sedang mengalami pergulatan batin seperti ini sebaiknya didorong untuk mencari bimbingan agama yang tepat serta bantuan profesional jika memang membutuhkannya.

 

Dengan demikian, fenomena yang mengarah pada parafilia adalah persoalan yang sangat kompleks. Secara ilmiah, penyebabnya tidak bisa disederhanakan menjadi satu hal saja. Sedangkan dari sisi agama, setiap muslim tetap dituntut untuk berupaya menjaga diri dan menjalankan syariat sebisa mungkin, seraya mengedepankan rasa kasih sayang, kebijaksanaan, serta penghormatan terhadap martabat sesama manusia.

 

Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 6 untuk senantiasa menjaga diri dan keluarga dari azab neraka, serta waspada secara luas dengan menjauhi segala hal yang mendekati penyimpangan. Seperti disebutkan dalam Surat Al-Isra’ ayat 32, jauhilah perbuatan yang menjijikkan itu, dan senantiasa berlindunglah dari segala tipu daya setan yang terkutuk.*

Editor : Afril


#Parafilia #Tinjauan_Islam #Kajian_Sosial










Posting Komentar